Saturday, August 18, 2007

Setu Babakan, Surga Kuliner Warga Betawi

Menggandol usia ke 481 kota Jakarta, ternyata tak membuat budaya betawi yang notabene sebagai tuan rumah ini mendapat tempat nomer wahid di jajaran kuliner. Alih-alih mendapat perhatian khusus bagi para pecinta kuliner, beberapa kuliner ciri khas betawi seperti soto tangkar, selendang mayang, sayur babanci, atau ikan kuah pucung pun malah kian habis tergilas oleh jaman. Tak pelak, makin lama gaung makanan betawi ini semakin tak terdengar. Terdengar sangat masygul bukan? Untung saja warga jakarta masih mempunyai satu tempat dimana semua kekayaan betawi masih tersimpan dengan manis di sana. Dan Setu Babakanlah surganya. Bertempat di samping sebuah danau yang cukup luas di daerah Srengseng Sawah, Lenteng Agung, memang membuat suasana tempat ini terlihat sejuk dan damai. Beberapa bangunan diperkampungan betawi yang masih berdiri kokoh dengan rapih itu pun menambah teduh pemandangan siang itu. Cukup jauh memang perjalan yang harus saya tempuh untuk mencapai kampung betawi ini. Tapi segala penat akan macet yang menemani saya selama dua setengah jam perjalan dari selatan jakarta itu langsung terbayarkan sudah oleh semangkuk minuman selendang mayang (seperti cendol) yang langsung saya pesan ketika saya meminjakkan kaki di Setu itu. Dan meniru ucapan almarhum ‘Bang Ben’, minuman ini, “Emang enggak ade duenye dah!,” Setelah melewati beberapa rumah perkampungan betawi yang pada umumnya memiliki tekstur bangunan yang dominan. Seperti rumah yang dikelilingi oleh perkarangan yang luas dan mempunyai atap unik, sampailah saya di surga warga jakarta ini. Oh iya, sebelum masuk kekawasan Setu Babakan ini, didepan sana saya telah disambut oleh gapura besar yang dikenal dengan nama “Pintu Bang Pitung”. Sebuah bangunan gapura yang benar-benar kental dengan guratan nuansa betawi. Teteapi entah kenapa dibilang pintu bang pitung, mengingat rumah jagoan betawi kita ini kan berada di Marunda, Jakarta Utara? Terlepas dari itu, tak salah memang bila saya bertandang ke Setu Babakan pada akhir pekan ini. Karena pementasan seni budaya ternyata khusus diadakan pada hari sabtu dan minggu. Lihat saja, mulai dari sajian lenong, gambang kromong Mustika Jaya, musik gambus Ismail Marzuki, sampai tari khas betawi semua tumplek blek disana. Um, pantas saja banyak warga jakarta yang melenggangkan kaki kesini. Rupanya ada tontonan gratis disini. Sambil menikmati cuilan kerak telor yang saya beli, saya pun dengan asik kembali menikmati tontonan kesenian betawi yang ditempatkan di sebuah panggung yang dibangun seluas 60 meter persegi. Saat itu, rupanya sedang diadakan les tari betawi untuk kelas anak-anak. Sepertinya panggung itu memang sengaja ditempatkan di tengah halaman luas yang dikelilingi oleh beberapa pohon besar, seperti pohon rambutan dan pohon melinjo. Dan ketika saya lihat sekeliling saya, ternyata sebagian dari pengunjung yang datang juga turut hanyut dengan geolan lucu penari kecil kita. Melihat ketekunan mereka bergelut dalam tari tradisional itu membuat saya berfikir, ditengah-tengah menjamurnya permainan budaya dari barat seperti Play Station dan game on line, ternyata tak sedikit dari mereka yang sudah diikut sertakan untuk melestarikan budaya betawi ini sedari kecil. Setelah cukup terhibur dengan kesenian betawi, saya pun beranjak pergi untuk mengarungi setu (danau). Ya, rasanya bila sudah bertandang kesini, wajib hukumnya untuk sedikit bersantai-santai di perahu. Di kawasan ini terdapat dua danau. Danau Mangga Bolong dan Danau Babakan. Tapi yang cukup dikenal, ya danau babakan ini. Sepanjang tepi danau, banyak warung kedai yang terjajar rapi disana, walaupun ada juga beberapa pedagang yang menjajakan jualannya dengan dipikul, seperti pedagang soto betawi kerak telor dan toge goreng itu contohnya. Sekilas, terlihat banyak para pengunjung yang sedang menikmati makanannya sambil memandang lepas ke danau. Tetapi ada pula yang asik duduk di bibir danau sambil melempar kail pancingannya. Bagi mereka, hasil pancingan bukanlah tujuannya. Melewatkan hari hingga senja dengan alamlah yang mereka cari. Kawasan konservasi kebudayaan betawi ini memang tempat yang pas untuk melepaskan dahaga kita akan kuliner betawi. Bagaimana tidak, disini saya bisa menemukan sayur babanci atau ikan kuah pucung yang hampir tidak bisa saya temukan di jakarta! Wuah, bisa lahap makan saya nanti. Atau bila anda ingin menjajal makanan lainnya, laksa juga bisa menjadi pilihan alternatif anda. Apalagi dengan ditemani segelas bir pletok, rasanya lengkap petualangan saya hari ini. Sayang para pemain kuliner betawi ini memang tidak begitu mempedulikan akan tampilan warungnya. Bagi mereka, dengan kemasan kedai seperti ini sudah lebih dari cukup rasanya. Umm, sedikit ironis memang. Tak terasa semburat senja pun sudah mulai terlukis. Beberapa pengunjung baik dari jakarta atau luar jakarta pun mulai mengakhiri petualang mereka hari ini. Terlihat, beberapa pengunjung dari Jepang, Australia pun mulai beranjak pergi. Ya, kawasan yang sudah diresmikan oleh Pemda DKI ini juga kerap disambangi oleh beberapa wisatawan asing. Mereka yang tertarik dengan budaya betawi memang harus melewatkan waktu disini. Untuk itu sudah sepatutnya kita ikut memelihara dan melestarikan kebudayaan betawi di Setu Babakan. Ya Budayanya, ya kulinernya!

Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!

Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...