Akal Sehat!!
begitu Dahlan Iskan menyebutnya.
adalah sebuah kolom Radar Surabaya yang bisa tiap hariku jumpa dan kubaca bila ku mampir ke meja bapak iing akhir-akhir ini.
membaca rubrik itu, membuatku beranalogi
bagiku, akal sehat tak ubahnya sebuah slilit yang sangat membuat kita resah.
berwujud kecil memang, tapi frekuensi mengganggunya itu sangat tinggi sekali.
mau itu berwujud daging ayam, tetelan bahkan secunguk tempe kalau sudah nyangkut di sela gigi, berani taruhan lidahpun akan kesal dibuatnya. ya lidahku ini buktinya.
tak berlebihan bila slilit sama halnya benar-benar dengan akal sehat.
cuilan makanan dan seonggok rasio.
sama-sama mengganggu.
membaca tuangan akal sehat Pak Dahlan memang bisa menyunggingkan senyumku. pasalnya akal sehatnya itu benar-benar berhasil membuat aku menggodekkan kepala. tapi aku tidak bilang aku mengamininya ataupun sebaliknya ya?
tulisannya saat presiden SBY akhirnya mendelegasikan nama dirut BI ke JK karena kedua nama calonnya ditolak MPR itu salah satunya.
aku tertawa.
sumpah.
pasalnya, aku jadi teringat tulisanku yang 'digubah' oleh redakturku itu!!!!!!
hahahhahha... konyol.
akal sehat pak Dahlan berkata, jelaslah SBY akhirnya 'melempar' tugas itu ke JK, ya kalau dibilang muthung, memang iya! memang salah? and toh, bukan hanya roker kok yang manusia!
belum habis menyeruput akal sehat yang di atas, timbul lagi akal sehat Pak Dahlan lainnya. dimana penolakan itu disebut sebuah skenario yang apik.
hmffhh...
kenapa pak Dahlan itu memilih akal sehat sebagai judul rubrikasinya?
kenapa bukan akal-akalan?
atau hati nurani? (biar gabung sama Hanura, hehehhee)
atau s l i l i t?
karena 'akal sehat'nya itu apa benar-benar sehat?
karena kalau terus mengikuti episode akal sehat bersama Dahlan Iskan, rasa juga tak kalah berperan diantara rasionya. bila diskala, 60%-40% mungkin.
tunggu, akal sehat itu apa benar-benar hanya dimiliki oleh rasio?
atau itu sebuah permainan cantik antar rasio dan rasa?
atau...
terlepas akal sehat itu benar salah, baik buruk, setidaknya lelaki yang mendapat banyak simpati setelah memproklamirkan transplantasi hatinya, dia bisa mengakomodir dengan baik rasio dan rasanya.
banyak cara untuk menyingkirkan silit ini, bisa dengan tusuk gigi, kumuran air, melikuk lidah.
dan banyak juga jalan untuk menemukan pertanyaan 'kenapa' di akal sehat. bisa dengan rasio, rasa. (mau itu Su'uzon ataupun Hus'nuzon itu urusan belakangan).
um, Dahlan Iskan?
sebagai salah satu orang yang enggak mau meninggal karena belum menemukan software komputer yang bisa membuat jurnalisnya benar-benar 'teliti' dalam membuat naskah berita memang salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang beruntung.
ambisi sangat kental didirinya.
tak salah ia pernah mengabadikan filosofi 24 karatnya di rubrik menegakkan akal sehat.
"bila ada 24 karat, kenapa mengenal 18 karat untuk mewujudkan keinginan kita?"
Isilah bejana hatimu dengan mendengar, berbicara, membaca dan menulis dengan porsi yang cukup. Dengan begitu rasio dan rasamu akan bisa saling menguatkan.
Thursday, March 27, 2008
Saturday, March 15, 2008
Buntut Harimau - vs - Kepala Tikus

lebih baik menjadi kepala seekor tikus, dari pada menjadi buntut harimau!
awalnya peribahasa itu, sedikit mendapat banyak senyumku. Maksudku, ketika aku menanyakan hal itu ke ayah didalam taksi, banyak pikiran yang melesat nyeleneh tak karuan.
pertama aku berfikir, Ya, lebih baik menjadi buntut harimaulah, karena setidaknya dia bisa menjadi salah satu bagian dari yang terhebat, meski hanya ekor buntut!!.
tapi aku langsung berfikir, meskipun menjadi salah satu bagian dari yang terhebat, yaitu bagian dari harimau, bukankah aku hanya tampil menjadi seekor buntut?
entah kenapa, melenceng lagi pikiran ini, rasanya untuk menjadi kepala tikus pun tak mengapa, and toh aku yang menjadi lokomotif, dan bukan hal yang mustahil suatu hari aku bisa merobek kulitku dan lahir menjadi seekor macan! ya kan?.
belum terjawab, melesat lagi pikiran yang menyebalkan, kendati menjadi lokomotof, tapi itukan hewan kecil! tikus!!!! a rat!! menjadi kepala tikus apakah bisa dilihat dengan layak? menjadi kepala tikus apakah bisa mempunyai nilai yang cukup? menjadi kepala tikus apakah bisa bahagia?
dan mentok, buntut harimau? kepala tikus? ah bila aku, rasanya aku harus berfikir beberapa kali untuk memilih dan menyandang predikat itu. entahlah...
and guest what? minggu ini, aku mendapat 'salam' dari tuhan.
mengingat aku belum dapat dengan baik (bahkan tidak sama sekali) memanej egoku, padahal aku sudah membombandir akan perubahan, tuhan pun dari dekat sini mencoba melempar senyum kearahku.
senyum yang menyebalkan musti. bagaimana tidak menyebalkan, aku yang bernafas dengan kepongahan, tiba-tiba harus dihadapkan dengan suntingan!
aku, kena gubah?
aku!!!
setelah hampir delapan bulan bekerja di media ini, baru kali ini aku kehilangan harga diriku. tulisanku kena edit!
'lukisan'ku diciprati warna oleh redaktur surabayaku.
biasa di manja oleh orang medan itu, aku pun mengalami pergolakan yang luar biasa. bagaimana tidak, tulisanku bercampur tulisannya edisi ini. menyebalkan? ya pasti!
pertarungan di hati inipun terus menjadi. baik di kantor di perjalanan, di rumah, aku hidup berkecamuk dengan egoku selama beberapa hari terakhir itu. kesal? ya jelaslah!!!
sialnya kesal itu benar-benar abadi dihati. keras sekali!
tapi, untuk episode kali ini, egoku sengaja aku bungkam! aku sengaja diam tak bergeming. tak berbicara pada rekanku, tak masuk kantor, tak terima panggilan telepon, tidak redakturku, tidak pemredku, tidak siapa pun!!! aku tak mau bergeming pada apapun.
bahkan saat sebuah mobil avanza abu-abu melesat cepat disampingku, dan menyipratiku dengan kubangan air hujan berwarna coklat bau yang tepat menampar mukaku, aku tak mengutukinya, aku tidak mendampratnya si pengendara selebor itu!!!!! aku hanya mau diam.. diam. beruntung dia, (bila di episode lain, sudah aku timpuk mobilnya dari belakang pakai baterai tape recorderku yang sengaja aku jadikan amunisi di kantong belakang tas!)
gila, hebat sekali pertarungan egoku ini!
tambah rendah sekali aku saat itu merasa!
apa yang salah pada diriku?
meski redaktur itamku, memang tidak menyunting habis-habisan tulisanku, tapi mengapa ini sangat menyita perhatianku!!!!
meski redaktur medanku, menyunting tulisan karena tema yang tak seirama dengan inginnya, kenapa aku kesal?
ya kalau ganti tema, ya tulisan harus digubah sedikit bukan?
lagian ini bukan diedit kok! bila berubah, jadi lebih bagus kok. dan itu bisa lari ke oplah bukan?
pada hari yang sama, beberapa teman lamaku datang padaku. mereka mengeluh tentang agenda acara reuni SMA akbar yang bagiku sangat mencle-mencle ini. bagaimana tidak mencel-mencle, sejak awal tahun baru 2008, rapat yang diagendakan tiap bulan dua kali, agenda mereka selalu merapatkan proposal. bahkan saat bulan ke empat ini masuk, proposal masih menjadi topik utama. betapa menyedihkan mereka.
jujur, aku kesal dengan mereka yang mengaku sangat berpengalaman dengan EO, tapi tidak mengerti medan sebenarnya. lebih kesal lagi, melihat judul reuni itu, wuah, ini reuni SMA ku atau apa?
masih berbekal ego, akupun menggelontorkan judul dan tema sendiri. bila diterima, aku akan mau bergabung dalam susunan kepaniatian dan ikut berkontribusi, tapi bila tidak, ya sebaliknya!
karena tuhan sayang dan manjakanku, ideku pun diterima dengan baik dan cepat oleh teman-temanku. ya bila, mereka tidak memakai judul itu, mereka sudah kehilangan anugrah terbesar pastinya. dan janji untuk meluangkan waktu nanti di rapat-rapat selanjutnya pun harus aku tepati kedepannya.
lagi-lagi, saat bergelut dengan agenda rapat, ada sedikit yang menggangguku. ya siapa lagi kalau bukan egoku ini. bayangkan, setiap ketua panitia berbicara, aku selalu menampiknya. menepisnya.
entah kenapa, rasanya aku tak suka mendengar di berbicara. entah karena wajahnya yang datar, intonasi nadanya yang hambar, karisma yang tak kelihatan dimataku, atau karena ide pemikirannya yang tak sekaliberku? entahlah karena apa. yang jelas aku lebih suka berdiskusi ini pada temanku yang satu itu dari pada menghabiskan waktu dengan pak ketua ini.
tapi untung saja, aku tidak merasakan itu sendirian. banyak temanku yang kurang klik dengan pak ketua. ya memang tidak boleh dijadikan alasan sih. melihat itu, temanku benar ubahnya melihat aku sebagai kaum oposisidi bendera SMUN 7 ku ini. entahlah...
berbekal dua episode itu, aku memang cenderung diam bersantun.
bayangkan,
episode pertama, dia redakturku... dia atasanku.
episode kedua, dia ketua panitia... ketua acara reuni kabar sembilan angkatan.
lalu aku?
aku tak lebih hanya seorang reporter, hanya menjadi seekor buntut harimau...
sudah itu, tak kalah sedih
aku juga hanya seorang panitia cabutan, hanya seeonggok kepala tikus!
oh man!!!
what the...
_menyedihkan memang saat mendengar sinar bulanku itu palsu.. tapi biar. yang bilang bulan itu penipu, pasti orangnya item!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!
Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...
-
Akal Sehat!! begitu Dahlan Iskan menyebutnya. adalah sebuah kolom Radar Surabaya yang bisa tiap hariku jumpa dan kubaca bila ku mampir ke me...
-
... minggu siang ini aku tak banyak melakukan aktivitas. hanya menonton kungfu panda untuk yang kali ketiga dan film slamdunk yang sudah lam...
-
Aku rindu lelaki tua itu.. Keadaannya yang kurang sehat itu membuat nafasku tercekik. Mungkin di siang hari aku bisa melupakannya barang se...