Wednesday, November 1, 2017

Sukseskan APFF 2017, Dengan Peduli Pada Isi Piring yang Kita Makan!

Keberanian Indonesia menjadi tuan rumah dalam acara Asia Pasific Food Forum (APFF) yang diadakan di Shangri-la Hotel (30-31 Oktober 2017) sangat perlu diapresiasi. Bagaimana tidak, di saat Indonesia masih memiliki raport merah untuk beberapa penyelesaian masalah kesehatan, sistem pangan dan lingkungan hidup, Pemerintah menunjukan keseriusannya untuk mencari solusi atas pemasalahan pangan.
Masalah pangan di Indonesia memang njelimet dan sedikit banyak membuat kita meringis. Bagaimana tidak, jika dilihat dari sudut pandang nasional, masalah pangan amatlah rumit dan jauh dari kata sederhana.
Tengok saja hasil ‘Rembuk Nasional Tiga Tahun Masa Pemerintahan Jokowi-JK’- tentang pangan- yang diadakan beberapa pekan lalu, 23/10, di JIEXPO Kemayoran. Di sana ada beberapa persoalan yang pelik. Dimana para petani menyuarakan keluhannya mengenai subsidi, mengenai penyuluhan pertanian yang tidak berjalan dengan baik selama ini. Mengenai menuanya peralatan di industri gula yang menyebabkan produk gula petani rendah. Dan juga mengenai mahalnya pakan untuk unggas dan sulitnya memperoleh breeding sapi yang baik. Lalu apa langkah kongkrit pemerintah untuk mengatasi masalah pangan ini? Tak main-main untuk permasalahan benih, pemerintah segera memfasilitasi petani agar bisa menghasilkan benih sendiri atau didorong terbentuknya kebun benih desa. Juga untuk penyuluhan, pemerintah berjanji melaksanakannya lebih kontinyu. Begitu pun untuk permasalahan menuanya alat produksi di pabrik gula, dan industry breeding sapi, pemerintah siap menunjang lebih apik. Karena sudah pasti, Indonesia mempunyai modal dasar untuk mengatasi mal nutrisi bahkan membangun ketahanan ekonomi
Oke, lalu bagaimana kita, ibu-ibu di rumah melihat masalah pangan? Wuah, keluhan pertama kita pasti tentang harga-harga pangan yang mahal di pasar dan di tukang sayur. Kedua, masalah monomer sekiankan makanan rumahan dan tumbuhan-tumbuhan liar yang ada di sekitar kita. Dan terakhir, masalah bangganya kita dengan junk food. Malah tak sedikit yang seperti berlomba untuk eksis makan fast food, dan mempunyai aturan harus foto junk food dulu, baru boleh di makan.
Lalu langkah kongkrit apa yang kita, sebagai orang tua, sebagai rakyat Indonesia dalam mengatasi masalah pangan sehingga bisa ikut mensukseskan APFF?
Pertama, ayo berkebun! Masih teringat jelas, ucapan Helianti Hilman-Founder Ceo Javara, mengajak kita semua untuk berkebun dan tidak boleh beralasan tak ada lahan di rumah untuk bercocok tanam, ketika menjadi pembicara di Kementerian Kesehatan RI (26/10) saat mengkampanyekan APFF di depan bloggercrony dan para blogger kesehatan.
“Menanam sayuran tidak selalu membutuhkan tanah. Kecambah, apa perlu tanah?,” tanya Herlianti yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh kami para blogger.
Dan benar saja, menanam kangkung, bayam, bawang apa diperlukan tanah semester? Tidak. Sekarang banyak media atau wadah yang bisa diaplikasikan untuk menanam tanpa harus mencangkul tanah bermeter-meter. Jadi ayo kita mulai menanam tanaman yang bisa kita makan dirumah sendiri sehingga kita bisa memangkas harga pangan dan mendapatkan sayuran yang organic dari kebun sendiri,” sambungnya.
Kedua, Jangan Pandang Sebelah Mata Tumbuhan Liar. Tahukah kita tumbuhan liar merupakan subsidi Tuhan untuk kita. “Bayangkan, tanaman liar seperti daun kelor menurut riset diluar negeri, mempunyai kandungan 14 kalsium, 14 kali lebih tinggi dari susu, bahkan proteinnya dua kali lebih tinggi daging sapi, kandungan Vitamin A-nya lebih tinggi dari wortel, Vitamin C-nya pun lebih tinggi dari jeruk, Airnya lebih tinggi dari bayam dan Potasiumnya lebih tinggi dari pisang,” papar Herlianti sambill tersenyum puas dan sukses membuat saya maupun blogger yang hadir pun langsung melongo.
“Dan hebatnya daun kelor itu, enggak diurus pun tumbuh subur! Apa namanya cobakalau bukan Subsidi Tuhan?,” pungkas wanita yang menutupi kepalanya dengan turban berwana biru.
Tak hanya daun kelor, tanaman liar seperti pegagan, kerokot pun merupakan tanaman pangan liar jenis dedaunan yang banyak mengandung kalsium, bahkan kandungan kalsium pegagan itu sangat tinggi seimbang dengan kalsium pada susu. Jadi daripada Revolusi Putih mewajibkan masyarakat meminum susu, lebih baik memanfaatkan subsidi Tuhan ini dan masalah gizi buruk pasti bisa diatasi.
Ketiga, Perhatikan Gaya Hidup Anda Ketika jaman semakin maju, kondisi perekonomian mulai membaik, PR negara kita adalah ancaman penyakit tidak menular (PTM), seperti Jantung, kolesterol, stroke yang disebabkan pola makan enak, pola hidup enak.
Jadi sudah pasti yang mager alias malas gerak, rajin makan junk food, dan tidak pernah olahraga, pasti dapat salam dari PTM.
Dan ironisnya, permasalahan gizi buruk saat ini sepertinya sudah berbanding lurus dengan masalah PTM karena gaya hidup yang tidak sehat. Ayo, perhatikan isi piring yang akan kita makan. Ayo sukseskan APFF dengan memberi perhatian dengan apa yang kita makan.

Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!

Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...