Ayahku baru saja menuliskan tentang magisnya optimisme. Tulisan tentang seorang kawan yang tubuhnya dibalur oleh kekuatan kepercayaan diri untuk lebih memilih rasa yang menyenangkan yang akan dialami ditiap hari yang akan dilaluinya. Ya, pilihan ‘bisa berada dalam suasana hati enak atau bisa berada dalam suasana tak bersemangat.’
Sedikit merinding memang saat membacanya. Kendati itu bukan tulisan kali pertama yang aku baca tentang efek membangkitkan gairah kita untuk berfikir optimisme, tetap saja cerita ayah tentang seorang perempuan yang tetap mengguyurkan senyumnya dengan keoptimisan pada saat ia kritis membuat aku miris.
Optimis? Oke, Lepas membacanya, aku pun lama terdiam. Dan membuang pandangan ke layar monitor, sambil berdesis. “Selama lebih dari 27 tahun membunuh waktu, episode optimisku itu yang mana? Oh yang ini!!! Umm, enggak ding.. ya ampun, moment apa yang pernah aku bakar dengan optimis ya..,”
Tau tidak, aku berfikir itu hari senin pukul 12.45 WIB dan sampai esok pagi, aku belum menemukan jawaban yang ku fikir mudah itu. ibarat ujian, soal esaiku itu masih kosong, polos dan mulus tanpa lipatan atau goretan gambar benang kusut!
Hari Selasa ini sudah ada schedule yang aku jalankan! Pergi ke kelurahan untuk mengurus KTP lalu meluncur ke Bank guna mengurus ATM ku yang raib sejak pekan yang lalu. Dan Jadwalku semakin padat karena aku harus terlebih dahulu membebaskan ponakan kecilku yang mengalami konstipasi selama hampir dua jam itu. hematnya, jadwalnya molor!
Singkat cerita, setelah mampir ke RT setempat, aku pun akhirnya masuk ke kelurahan yang letaknya pas berdampingan dengan terminal klender jakarta timur. Saat masuk, aku yang jalan agak tergopoh-gopoh itu langsung masuk ke ruangan khusus pelayanan. Sebelum mengetuk dan masuk ke ruangan yang sudah lumayan di padati oleh masyarakat setempat, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu berseragam coklat yang menodong pertanyaan singkat.
“Perpanjang atau bikin baru?”
“Bikin baru..”, jawabku sambil menyerahkan berkas-berkas yang sudah aku siapkan.
“Udah, Besok aja balik lagi. Komputernya eror, antriannya panjang lagi pula, ” ujar wanita yang memiliki tahi lalat pas di mucung hidungnya itu sambil menyerahkan berkas yang tak sampai dua menit ia gerayangi.
BESOK? Hei, menunda proses bikin baru KTP hari ini berarti bisa menunda semua rencana yang sudah aku susun sejak tahun awal tahun 2010!!! Wah ga bisa!! Ga bisa!!
Saat wanita bertumbuh gempal itu pergi meninggalkan aku yang terkulai lemas, aku pun langsung berjalan gontai dan bermuka masam guna berusaha mencari tau apakah benar-benar tak bisa kartu pendudukku selesai.
Ruangan yang berisikan empat meja dan satu set komputer itu memang cukup ramai. Terlihat komputer rusak itu pun sedang di kerubungi teman sejawat ibu berseragam coklat tadi. “ah malas kali kalau besok harus kembali kesini,” gerutuku pelan.
Tapi tak lama aku berdiri disana, sekumpulan orang-orang berseragam coklat itu pun lalu keluar ruangan dengan teratur. Perginya mereka, membuat ruangan ini agak lowong. Hanya tinggal dua pegawai dan gadis bertubuh besar plus seorang ibu yang membawa keranjang sayur.
Saat aku mengamati monitor yang sedang bermasalah itu, tiba-tiba ibu bertahi lalat itu pun masuk dan langsung memicingkan matanya saat mendapati aku sudah duduk di dalam ruangannya. Masuknya ibu bertahi lalat itu diikuti oleh beberapa pasien yang sudah datang jauh sebelumku.
Melihat aku tertutupi oleh beberapa ‘pasien’ yang ikut-ikutan masuk tadi, ibu bertahi lalat itu pun mengambil nafas dan “Tunggu di luar aja, nantikan kalau sudah selesai dipanggil!,” dan benar, mendengar itu, sebagian pasien memang akhirnya keluar. Tapi aku, ibu yang membawa keranjang, dan gadis bertubuh besar itu malah tidak bergeming sekalipun.
Masih dengan mata elangnya, melihat kami bertiga yang tak mau melangkahkan kaki, akhirnya ibu bertahi lalat itu pun lalu menyibukkan dirinya dengan membaca ulang berkas-berkas yang ada di mejanya.
“Perpanjang dek?” tanya ibu itu tersenyum sambil menaruh keranjang sayurnya di kolong bangku.
“Bikin baru bu, ilang..” jawabku sambil membalas senyum yang tak kalah manis.
“Wah sama kayak anak ibu tuh, KTPnya juga hilang,” ujar sang ibu menunjuk gadis bertubuh besar itu. ohh, gadis itu anaknya toh…
tiba-tiba,
“Wah, ya udah. Rusak nih! Udah pake manual aja!,” pekik si tahi lalat itu sambil mendaratkan pantatnya di kursi depan monitor yang eror tersebut. Jujur ia berhasil memudarkan senyumku dan senyum ibu tadi.
Melihat itu, aku pun terdiam dan menyilakan kedua tanganku. “Masa besok harus kesini lagi,” gunggamku menundukk lesu.
tapi entah kenapa, baru kali itu aku mempunyai kekuatan besar dan berkeras pada hatiku. “Enggak, pasti bisa selesai. Pasti komputernya bisa beroperasi dan si tahi lalat itu pun tidak berlama-lama memiliki kesalnya. Oke! Optimisku? Episodemu ku mulai di hari ini!”
Hebat! saat aku memakukan optimis dalam diriku, segala kesal pun berubah menjadi sebuah kekuatan. Kesalku hilang, gerutuku terbang, muka masamku pun terbuang. “Aku memilih melewati waktu di kelurahan dengan optimis KTPku kelar!!
Dan hasilnya, hehehe… komputer itu akhirnya bisa di ajak kerjasama loh! dan (percaya atau tidak) si tahi lalat itu pun menyembulkan senyumnya padaku saat mengurus berkasku. Bahkan tak lama, ia pun berubah menjadi sosok ibu yang menyenangkan. Saking menyenangkannya, ia pun berani-beraninya bertanya, “Bener bukan orang Batak nih?”
Wuah, kekuatan optimis memang hebat. Jadi tidak sabar dengan episode optimismeku berikutnya. Dimana aku akan selalu mengingat akan memilih berada dalam suasana hati enak.
Isilah bejana hatimu dengan mendengar, berbicara, membaca dan menulis dengan porsi yang cukup. Dengan begitu rasio dan rasamu akan bisa saling menguatkan.
Tuesday, February 28, 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!
Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...
-
Akal Sehat!! begitu Dahlan Iskan menyebutnya. adalah sebuah kolom Radar Surabaya yang bisa tiap hariku jumpa dan kubaca bila ku mampir ke me...
-
... minggu siang ini aku tak banyak melakukan aktivitas. hanya menonton kungfu panda untuk yang kali ketiga dan film slamdunk yang sudah lam...
-
Aku rindu lelaki tua itu.. Keadaannya yang kurang sehat itu membuat nafasku tercekik. Mungkin di siang hari aku bisa melupakannya barang se...