Friday, July 20, 2012

sesak itu...

sesak itu, kala berada dalam lift yang penuh lalu hidung kita tertampar aroma tubuh masing-masing dari orang dalam lift tersebut. sesak itu, kala mendengar kabar tidak baik kala kita sedang dalam kondisi baik-baik saja. sesak itu, kala mengetahui bos menzalimi bawahannya tanpa menghargai tetesan keringatnya. sesak itu, kala kita menahan untuk tidak berteriak disaat kita sedang bertengkar dengan orangtua atau dengan kekasih kita. sesak itu, kala mengetahui masa lalu pasangan kita masih bergelayut dihatinya. sesak itu, kala mengetahui gaji kita tidak sama naiknya dengan rekan kerja kita. sesak itu, kala kita tidak diundang ke pernikahan kawan kita sendiri. sesak itu, kala kita mendengar orang terdekat kita mengatakan, biarkan aku sendiri. dan sesak itu, kala mengetahui rasio kita telah dikalahkan oleh rasa, karena saat itu lidah kita bekerja lebih cepat daripada otak kita...

Saturday, June 16, 2012

"Nak, Tengoklah Perilaku Covertnya"

Dua belas menit yang lalu, ayahku mengirimkan email untukku. Hematnya, ia tengah mengajak aku untuk kembali mengingatkan tentang "teliti sebelum membeli". mungkin ia lakukan itu karena semalam aku menghentakkannya dengan kabar, "I'm getting married dad..” Aku lupa, ayah psikologisku ini memang bukan sekedar seorang ayah untukku yang siap mendengarkan aku bercerita sambil menyeruput kopi hitamnya, beliau juga dikenal sebagai seorang Marriage & Family Therapist, yang juga sering diminta kliennya untuk menjadi seorang konsultan Pranikah. Dan kini, mungkin ia melihat, aku membutuhkan ‘rangkulan’ hangat darinya. Sejak dulu, ayahku memang selalu mengingatkan aku untuk tidak membiarkan ‘nasi menjadi bubur’. “Kecuali jika kamu sendiri yang berniat memasak bubur..” lirihnya. Menerima dan membiarkan diri kita hidup bersama dengan pasangan jiwa kita nanti memang bukan suatu hal yang mudah. Hal itu pun sudah dipahami dengan jelas oleh ayahku. Untuk itu, siang tadi ia pun mengirimkan email untuk membilas semua perasaan cemasku dalam menjalani episodeku mendatang. Mengenali perilaku overt dan covert pada orang-orang terdekat kita terutama pasangan kita merupakan sesuatu hal yang hakiki. Tapi sayangnya kita terlalu cepat membubuhkan nilai seseorang melalui perilaku overtnya, sebuah perilaku yang tampak nyata. “Padahal perilaku overt itu bisa saja dibuat-buat, direncanakan, dan diperhalus,” jelas ayahku. “Nak, tengoklan perilaku covertnya,” pinta ayahku Perilaku covert memang akan mencerminkan prilaku alam sadar dan bawah sadarnya. Dengan begitu kita tidak akan kaget bila nanti tiga atau beberapa tahun mendatang, akan muncul karakter aslinya yang super ajaib berbedanya dengan karakter kala kita mengenalnya saat pacaran. Masalahnya, apa itu hal yang mudah untuk menelanjangi pasangan kita lewat perilaku covertnya? Karena sejatinya masa-masa kasmaran adalah masa dimana mata kita tidak awas dan jiwa kita mabuk. “Hei? Benarkan?” tanyaku pada batinku sendiri. “Tidak!” jawab ayahku ~ya, terkadang kita terlalu menyepelekan ayah. Ayah itu terkadang memang bisa membaca fikiran kita, contohnya sekarang… “Oke Bagaimana cara mengamati perilaku covert itu? Susahkah? Sama sekali tidak. Hanya dibutuhkan pikiran yang mau bernalar lebih panjang saja. Hari misalnya, dikenal oleh pacar dan seluruh keluarganya sebagai pria periang karena suka bercanda. Tetapi tunggu dulu. Coba amati lebih dalam, bukankah pada saat kita bicara serius, ia juga meresponnya dengan bercanda? Belum selesai saya bicara soal, pentingnya kepedulian ayah pada anaknya, ia bereaksi dengan guyonan soal itu. Juga ketika saya bicara tentang teladan kejujuran ayah, belum ada setengah detik, ia membalasnya dengan candaan. Pacarnya, Shanti, yang sama-sama remaja sih senang dan makin cinta karena Hari selalu membuat suasana hatinya gembira. Namun, setelah menikah, Hari tak mau mengantar anaknya sekolah. Dan ternyata, Hari juga suka berbohong kepada Shanti, mulai soal lembur, kongkow-kongkownya dengan teman-teman lamanya, sampai soal jumlah gaji dan akhirnya perselingkuhannya. Apakah Hari berubah? Tidak! Dari dulu ia memang orang yang tak bertanggung jawab - itu sebabnya ia tidak bisa diajak bicara serius. Dalam hal ini, bercanda adalah pertanda (perilaku covert) dari sifat suka lari dari tanggung jawab. Bercanda di sini juga sinyal atas mudahnya ia membohongi diri sendiri dan orang lain. Bercandanya Hari sesungguhnya adalah benteng atau topeng atau kompensasi dari kurangnya rasa percaya dirinya.” Berikut sepenggal pesan yang tersemat di emailnya yang dikirimnya untukku. Sengaja aku tuang di sini agar aku bisa melihat pesannya dimana-mana. ~Di inbok emailku, bisa, di blogku, bisa.. atau mungkin akan aku print dan kubakar lalu kuminum biar aku ingat. hehhee Hmmf. sekarang hampir 45 menit waktu berlalu, dan aku malah menghabiskan waktu untuk mengabadikan perasaanku yang aku sendiri belum tau bagaimana rasanya perasaan aku sendiri detik ini. But dad, thanks for reminding me.. I will do it.. aku akan melihat dan menyayanginya melalu rasa dan rasioku, karena aku yakin ia memang rencana indah Tuhan untukku. and dad, Doakan aku bisa sepertimu yang bersyukur pada Tuhan karena telah dikirimkan Bunda yang selalu menemanimu sampai ujung usia ya.. Love u dad.. always

Tuesday, February 28, 2012

perintahkanlah optimis anda

Ayahku baru saja menuliskan tentang magisnya optimisme. Tulisan tentang seorang kawan yang tubuhnya dibalur oleh kekuatan kepercayaan diri untuk lebih memilih rasa yang menyenangkan yang akan dialami ditiap hari yang akan dilaluinya. Ya, pilihan ‘bisa berada dalam suasana hati enak atau bisa berada dalam suasana tak bersemangat.’

Sedikit merinding memang saat membacanya. Kendati itu bukan tulisan kali pertama yang aku baca tentang efek membangkitkan gairah kita untuk berfikir optimisme, tetap saja cerita ayah tentang seorang perempuan yang tetap mengguyurkan senyumnya dengan keoptimisan pada saat ia kritis membuat aku miris.

Optimis? Oke, Lepas membacanya, aku pun lama terdiam. Dan membuang pandangan ke layar monitor, sambil berdesis. “Selama lebih dari 27 tahun membunuh waktu, episode optimisku itu yang mana? Oh yang ini!!! Umm, enggak ding.. ya ampun, moment apa yang pernah aku bakar dengan optimis ya..,”

Tau tidak, aku berfikir itu hari senin pukul 12.45 WIB dan sampai esok pagi, aku belum menemukan jawaban yang ku fikir mudah itu. ibarat ujian, soal esaiku itu masih kosong, polos dan mulus tanpa lipatan atau goretan gambar benang kusut!

Hari Selasa ini sudah ada schedule yang aku jalankan! Pergi ke kelurahan untuk mengurus KTP lalu meluncur ke Bank guna mengurus ATM ku yang raib sejak pekan yang lalu. Dan Jadwalku semakin padat karena aku harus terlebih dahulu membebaskan ponakan kecilku yang mengalami konstipasi selama hampir dua jam itu. hematnya, jadwalnya molor!

Singkat cerita, setelah mampir ke RT setempat, aku pun akhirnya masuk ke kelurahan yang letaknya pas berdampingan dengan terminal klender jakarta timur. Saat masuk, aku yang jalan agak tergopoh-gopoh itu langsung masuk ke ruangan khusus pelayanan. Sebelum mengetuk dan masuk ke ruangan yang sudah lumayan di padati oleh masyarakat setempat, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu berseragam coklat yang menodong pertanyaan singkat.

“Perpanjang atau bikin baru?”
“Bikin baru..”, jawabku sambil menyerahkan berkas-berkas yang sudah aku siapkan.
“Udah, Besok aja balik lagi. Komputernya eror, antriannya panjang lagi pula, ” ujar wanita yang memiliki tahi lalat pas di mucung hidungnya itu sambil menyerahkan berkas yang tak sampai dua menit ia gerayangi.

BESOK? Hei, menunda proses bikin baru KTP hari ini berarti bisa menunda semua rencana yang sudah aku susun sejak tahun awal tahun 2010!!! Wah ga bisa!! Ga bisa!!

Saat wanita bertumbuh gempal itu pergi meninggalkan aku yang terkulai lemas, aku pun langsung berjalan gontai dan bermuka masam guna berusaha mencari tau apakah benar-benar tak bisa kartu pendudukku selesai.

Ruangan yang berisikan empat meja dan satu set komputer itu memang cukup ramai. Terlihat komputer rusak itu pun sedang di kerubungi teman sejawat ibu berseragam coklat tadi. “ah malas kali kalau besok harus kembali kesini,” gerutuku pelan.

Tapi tak lama aku berdiri disana, sekumpulan orang-orang berseragam coklat itu pun lalu keluar ruangan dengan teratur. Perginya mereka, membuat ruangan ini agak lowong. Hanya tinggal dua pegawai dan gadis bertubuh besar plus seorang ibu yang membawa keranjang sayur.

Saat aku mengamati monitor yang sedang bermasalah itu, tiba-tiba ibu bertahi lalat itu pun masuk dan langsung memicingkan matanya saat mendapati aku sudah duduk di dalam ruangannya. Masuknya ibu bertahi lalat itu diikuti oleh beberapa pasien yang sudah datang jauh sebelumku.

Melihat aku tertutupi oleh beberapa ‘pasien’ yang ikut-ikutan masuk tadi, ibu bertahi lalat itu pun mengambil nafas dan “Tunggu di luar aja, nantikan kalau sudah selesai dipanggil!,” dan benar, mendengar itu, sebagian pasien memang akhirnya keluar. Tapi aku, ibu yang membawa keranjang, dan gadis bertubuh besar itu malah tidak bergeming sekalipun.

Masih dengan mata elangnya, melihat kami bertiga yang tak mau melangkahkan kaki, akhirnya ibu bertahi lalat itu pun lalu menyibukkan dirinya dengan membaca ulang berkas-berkas yang ada di mejanya.

“Perpanjang dek?” tanya ibu itu tersenyum sambil menaruh keranjang sayurnya di kolong bangku.
“Bikin baru bu, ilang..” jawabku sambil membalas senyum yang tak kalah manis.
“Wah sama kayak anak ibu tuh, KTPnya juga hilang,” ujar sang ibu menunjuk gadis bertubuh besar itu. ohh, gadis itu anaknya toh…

tiba-tiba,

“Wah, ya udah. Rusak nih! Udah pake manual aja!,” pekik si tahi lalat itu sambil mendaratkan pantatnya di kursi depan monitor yang eror tersebut. Jujur ia berhasil memudarkan senyumku dan senyum ibu tadi.

Melihat itu, aku pun terdiam dan menyilakan kedua tanganku. “Masa besok harus kesini lagi,” gunggamku menundukk lesu.
tapi entah kenapa, baru kali itu aku mempunyai kekuatan besar dan berkeras pada hatiku. “Enggak, pasti bisa selesai. Pasti komputernya bisa beroperasi dan si tahi lalat itu pun tidak berlama-lama memiliki kesalnya. Oke! Optimisku? Episodemu ku mulai di hari ini!”

Hebat! saat aku memakukan optimis dalam diriku, segala kesal pun berubah menjadi sebuah kekuatan. Kesalku hilang, gerutuku terbang, muka masamku pun terbuang. “Aku memilih melewati waktu di kelurahan dengan optimis KTPku kelar!!

Dan hasilnya, hehehe… komputer itu akhirnya bisa di ajak kerjasama loh! dan (percaya atau tidak) si tahi lalat itu pun menyembulkan senyumnya padaku saat mengurus berkasku. Bahkan tak lama, ia pun berubah menjadi sosok ibu yang menyenangkan. Saking menyenangkannya, ia pun berani-beraninya bertanya, “Bener bukan orang Batak nih?”

Wuah, kekuatan optimis memang hebat. Jadi tidak sabar dengan episode optimismeku berikutnya. Dimana aku akan selalu mengingat akan memilih berada dalam suasana hati enak.

Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!

Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...