Isilah bejana hatimu dengan mendengar, berbicara, membaca dan menulis dengan porsi yang cukup. Dengan begitu rasio dan rasamu akan bisa saling menguatkan.
Saturday, June 16, 2012
"Nak, Tengoklah Perilaku Covertnya"
Dua belas menit yang lalu, ayahku mengirimkan email untukku. Hematnya, ia tengah mengajak aku untuk kembali mengingatkan tentang "teliti sebelum membeli".
mungkin ia lakukan itu karena semalam aku menghentakkannya dengan kabar, "I'm getting married dad..”
Aku lupa, ayah psikologisku ini memang bukan sekedar seorang ayah untukku yang siap mendengarkan aku bercerita sambil menyeruput kopi hitamnya, beliau juga dikenal sebagai seorang Marriage & Family Therapist, yang juga sering diminta kliennya untuk menjadi seorang konsultan Pranikah. Dan kini, mungkin ia melihat, aku membutuhkan ‘rangkulan’ hangat darinya.
Sejak dulu, ayahku memang selalu mengingatkan aku untuk tidak membiarkan ‘nasi menjadi bubur’. “Kecuali jika kamu sendiri yang berniat memasak bubur..” lirihnya.
Menerima dan membiarkan diri kita hidup bersama dengan pasangan jiwa kita nanti memang bukan suatu hal yang mudah. Hal itu pun sudah dipahami dengan jelas oleh ayahku. Untuk itu, siang tadi ia pun mengirimkan email untuk membilas semua perasaan cemasku dalam menjalani episodeku mendatang.
Mengenali perilaku overt dan covert pada orang-orang terdekat kita terutama pasangan kita merupakan sesuatu hal yang hakiki. Tapi sayangnya kita terlalu cepat membubuhkan nilai seseorang melalui perilaku overtnya, sebuah perilaku yang tampak nyata.
“Padahal perilaku overt itu bisa saja dibuat-buat, direncanakan, dan diperhalus,” jelas ayahku.
“Nak, tengoklan perilaku covertnya,” pinta ayahku
Perilaku covert memang akan mencerminkan prilaku alam sadar dan bawah sadarnya. Dengan begitu kita tidak akan kaget bila nanti tiga atau beberapa tahun mendatang, akan muncul karakter aslinya yang super ajaib berbedanya dengan karakter kala kita mengenalnya saat pacaran.
Masalahnya, apa itu hal yang mudah untuk menelanjangi pasangan kita lewat perilaku covertnya? Karena sejatinya masa-masa kasmaran adalah masa dimana mata kita tidak awas dan jiwa kita mabuk.
“Hei? Benarkan?” tanyaku pada batinku sendiri.
“Tidak!” jawab ayahku ~ya, terkadang kita terlalu menyepelekan ayah. Ayah itu terkadang memang bisa membaca fikiran kita, contohnya sekarang…
“Oke Bagaimana cara mengamati perilaku covert itu? Susahkah? Sama sekali tidak. Hanya dibutuhkan pikiran yang mau bernalar lebih panjang saja.
Hari misalnya, dikenal oleh pacar dan seluruh keluarganya sebagai pria periang karena suka bercanda.
Tetapi tunggu dulu. Coba amati lebih dalam, bukankah pada saat kita bicara serius, ia juga meresponnya dengan bercanda? Belum selesai saya bicara soal, pentingnya kepedulian ayah pada anaknya, ia bereaksi dengan guyonan soal itu. Juga ketika saya bicara tentang teladan kejujuran ayah, belum ada setengah detik, ia membalasnya dengan candaan.
Pacarnya, Shanti, yang sama-sama remaja sih senang dan makin cinta karena Hari selalu membuat suasana hatinya gembira.
Namun, setelah menikah, Hari tak mau mengantar anaknya sekolah. Dan ternyata, Hari juga suka berbohong kepada Shanti, mulai soal lembur, kongkow-kongkownya dengan teman-teman lamanya, sampai soal jumlah gaji dan akhirnya perselingkuhannya.
Apakah Hari berubah?
Tidak!
Dari dulu ia memang orang yang tak bertanggung jawab - itu sebabnya ia tidak bisa diajak bicara serius.
Dalam hal ini, bercanda adalah pertanda (perilaku covert) dari sifat suka lari dari tanggung jawab. Bercanda di sini juga sinyal atas mudahnya ia membohongi diri sendiri dan orang lain. Bercandanya Hari sesungguhnya adalah benteng atau topeng atau kompensasi dari kurangnya rasa percaya dirinya.”
Berikut sepenggal pesan yang tersemat di emailnya yang dikirimnya untukku. Sengaja aku tuang di sini agar aku bisa melihat pesannya dimana-mana. ~Di inbok emailku, bisa, di blogku, bisa.. atau mungkin akan aku print dan kubakar lalu kuminum biar aku ingat. hehhee
Hmmf. sekarang hampir 45 menit waktu berlalu, dan aku malah menghabiskan waktu untuk mengabadikan perasaanku yang aku sendiri belum tau bagaimana rasanya perasaan aku sendiri detik ini.
But dad, thanks for reminding me.. I will do it..
aku akan melihat dan menyayanginya melalu rasa dan rasioku, karena aku yakin ia memang rencana indah Tuhan untukku.
and dad, Doakan aku bisa sepertimu yang bersyukur pada Tuhan karena telah dikirimkan Bunda yang selalu menemanimu sampai ujung usia ya..
Love u dad.. always
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!
Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...
-
Akal Sehat!! begitu Dahlan Iskan menyebutnya. adalah sebuah kolom Radar Surabaya yang bisa tiap hariku jumpa dan kubaca bila ku mampir ke me...
-
... minggu siang ini aku tak banyak melakukan aktivitas. hanya menonton kungfu panda untuk yang kali ketiga dan film slamdunk yang sudah lam...
-
Aku rindu lelaki tua itu.. Keadaannya yang kurang sehat itu membuat nafasku tercekik. Mungkin di siang hari aku bisa melupakannya barang se...
No comments:
Post a Comment