Saturday, March 15, 2008

Buntut Harimau - vs - Kepala Tikus


lebih baik menjadi kepala seekor tikus, dari pada menjadi buntut harimau!

awalnya peribahasa itu, sedikit mendapat banyak senyumku. Maksudku, ketika aku menanyakan hal itu ke ayah didalam taksi, banyak pikiran yang melesat nyeleneh tak karuan.

pertama aku berfikir, Ya, lebih baik menjadi buntut harimaulah, karena setidaknya dia bisa menjadi salah satu bagian dari yang terhebat, meski hanya ekor buntut!!.
tapi aku langsung berfikir, meskipun menjadi salah satu bagian dari yang terhebat, yaitu bagian dari harimau, bukankah aku hanya tampil menjadi seekor buntut?

entah kenapa, melenceng lagi pikiran ini, rasanya untuk menjadi kepala tikus pun tak mengapa, and toh aku yang menjadi lokomotif, dan bukan hal yang mustahil suatu hari aku bisa merobek kulitku dan lahir menjadi seekor macan! ya kan?.
belum terjawab, melesat lagi pikiran yang menyebalkan, kendati menjadi lokomotof, tapi itukan hewan kecil! tikus!!!! a rat!! menjadi kepala tikus apakah bisa dilihat dengan layak? menjadi kepala tikus apakah bisa mempunyai nilai yang cukup? menjadi kepala tikus apakah bisa bahagia?

dan mentok, buntut harimau? kepala tikus? ah bila aku, rasanya aku harus berfikir beberapa kali untuk memilih dan menyandang predikat itu. entahlah...


and guest what? minggu ini, aku mendapat 'salam' dari tuhan.
mengingat aku belum dapat dengan baik (bahkan tidak sama sekali) memanej egoku, padahal aku sudah membombandir akan perubahan, tuhan pun dari dekat sini mencoba melempar senyum kearahku.
senyum yang menyebalkan musti. bagaimana tidak menyebalkan, aku yang bernafas dengan kepongahan, tiba-tiba harus dihadapkan dengan suntingan!
aku, kena gubah?
aku!!!

setelah hampir delapan bulan bekerja di media ini, baru kali ini aku kehilangan harga diriku. tulisanku kena edit!
'lukisan'ku diciprati warna oleh redaktur surabayaku.
biasa di manja oleh orang medan itu, aku pun mengalami pergolakan yang luar biasa. bagaimana tidak, tulisanku bercampur tulisannya edisi ini. menyebalkan? ya pasti!
pertarungan di hati inipun terus menjadi. baik di kantor di perjalanan, di rumah, aku hidup berkecamuk dengan egoku selama beberapa hari terakhir itu. kesal? ya jelaslah!!!

sialnya kesal itu benar-benar abadi dihati. keras sekali!
tapi, untuk episode kali ini, egoku sengaja aku bungkam! aku sengaja diam tak bergeming. tak berbicara pada rekanku, tak masuk kantor, tak terima panggilan telepon, tidak redakturku, tidak pemredku, tidak siapa pun!!! aku tak mau bergeming pada apapun.

bahkan saat sebuah mobil avanza abu-abu melesat cepat disampingku, dan menyipratiku dengan kubangan air hujan berwarna coklat bau yang tepat menampar mukaku, aku tak mengutukinya, aku tidak mendampratnya si pengendara selebor itu!!!!! aku hanya mau diam.. diam. beruntung dia, (bila di episode lain, sudah aku timpuk mobilnya dari belakang pakai baterai tape recorderku yang sengaja aku jadikan amunisi di kantong belakang tas!)
gila, hebat sekali pertarungan egoku ini!
tambah rendah sekali aku saat itu merasa!

apa yang salah pada diriku?
meski redaktur itamku, memang tidak menyunting habis-habisan tulisanku, tapi mengapa ini sangat menyita perhatianku!!!!
meski redaktur medanku, menyunting tulisan karena tema yang tak seirama dengan inginnya, kenapa aku kesal?
ya kalau ganti tema, ya tulisan harus digubah sedikit bukan?
lagian ini bukan diedit kok! bila berubah, jadi lebih bagus kok. dan itu bisa lari ke oplah bukan?

pada hari yang sama, beberapa teman lamaku datang padaku. mereka mengeluh tentang agenda acara reuni SMA akbar yang bagiku sangat mencle-mencle ini. bagaimana tidak mencel-mencle, sejak awal tahun baru 2008, rapat yang diagendakan tiap bulan dua kali, agenda mereka selalu merapatkan proposal. bahkan saat bulan ke empat ini masuk, proposal masih menjadi topik utama. betapa menyedihkan mereka.

jujur, aku kesal dengan mereka yang mengaku sangat berpengalaman dengan EO, tapi tidak mengerti medan sebenarnya. lebih kesal lagi, melihat judul reuni itu, wuah, ini reuni SMA ku atau apa?

masih berbekal ego, akupun menggelontorkan judul dan tema sendiri. bila diterima, aku akan mau bergabung dalam susunan kepaniatian dan ikut berkontribusi, tapi bila tidak, ya sebaliknya!
karena tuhan sayang dan manjakanku, ideku pun diterima dengan baik dan cepat oleh teman-temanku. ya bila, mereka tidak memakai judul itu, mereka sudah kehilangan anugrah terbesar pastinya. dan janji untuk meluangkan waktu nanti di rapat-rapat selanjutnya pun harus aku tepati kedepannya.

lagi-lagi, saat bergelut dengan agenda rapat, ada sedikit yang menggangguku. ya siapa lagi kalau bukan egoku ini. bayangkan, setiap ketua panitia berbicara, aku selalu menampiknya. menepisnya.
entah kenapa, rasanya aku tak suka mendengar di berbicara. entah karena wajahnya yang datar, intonasi nadanya yang hambar, karisma yang tak kelihatan dimataku, atau karena ide pemikirannya yang tak sekaliberku? entahlah karena apa. yang jelas aku lebih suka berdiskusi ini pada temanku yang satu itu dari pada menghabiskan waktu dengan pak ketua ini.
tapi untung saja, aku tidak merasakan itu sendirian. banyak temanku yang kurang klik dengan pak ketua. ya memang tidak boleh dijadikan alasan sih. melihat itu, temanku benar ubahnya melihat aku sebagai kaum oposisidi bendera SMUN 7 ku ini. entahlah...

berbekal dua episode itu, aku memang cenderung diam bersantun.
bayangkan,
episode pertama, dia redakturku... dia atasanku.
episode kedua, dia ketua panitia... ketua acara reuni kabar sembilan angkatan.

lalu aku?

aku tak lebih hanya seorang reporter, hanya menjadi seekor buntut harimau...
sudah itu, tak kalah sedih
aku juga hanya seorang panitia cabutan, hanya seeonggok kepala tikus!


oh man!!!
what the...



_menyedihkan memang saat mendengar sinar bulanku itu palsu.. tapi biar. yang bilang bulan itu penipu, pasti orangnya item!!!


No comments:

Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!

Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...