Bersantap Sembari Membaca atau Membaca Sembari Bersantap?
Perpaduan tempat kuliner dan toko buku dalam satu atap, tak ubah menyatunya kopi dan susu dalam sebuah cangkir. Begitu nikmat dan mantap rasanya. Tak pelak konsep kafe buku kian menjamur empat tahun terakhir ini.
Pada umumnya kafe merupakan tempat makan dan minum sambil menghabiskan waktu senggang bersama teman atau sesama rekan kerja. Sekedar menyeruput kopi atau melahap sepotong sandwich, memang sudah menjadi rutinitas sebagian masyarakat kota kita. melihat itu, kini para pemain toko buku pun sedikit mengfungsionalkan kafe guna memaksimalkan pelayanan mereka. Dan, bravo!! Bagi para penggemar buku, konsep kafe buku itu pun layaknya surga dunia. Bagaimana tidak, di sana Anda bisa membaca buku sambil menyambi beberapa menu andalan kafe tersebut. Umm, indahnya dunia.

Buku Kafe
Bila dilihat dari luar, kemasan kafe buku yang banyak disinggahi oleh para eksekutif muda yang sedang melanjutkan S2nya ini memang sederhana. Sengaja mengusung konsep retro, kesan rumah jadul pun didapat. Menurut Widi, salah satu pemilik Buku Kafe, konsep bangunan luar memang sengaja didesain sederhana. “Tapi untuk interior di dalamnya, jauh sekali dengan konsep retro kan?,” lugas Widi sambil tersenyum simpul.
Ya, Atmosfer interior kafe buku yang sudah berumur hampir enam tahun ini, memang berbeda dengan tampilan luarnya. Konsep kafe benar-benar dikemasnya dengan unik. Tengok saja lukisan yang terlihat menantang disana, dan juga beberapa hiasan dinding yang hadir menyempil disela-sela rak buku. Benar-benar tampilan yang menggemaskan.
Suasana kafe buku yang segera akan membuka cabang di kota Depok ini juga sangat nyaman. Beberapa mahasiswa yang sedang berdiskusi tentang tugas kuliahnya pun tampak menikmati sekali dengan aura Buku Kafe itu. Kendati terletak persis dipinggir jalan, kebisingan dan suasana hiruk pikuk lalu lintas di Jl Margonda Raya ini tidak membias ke area kafe. “Selain memasang kaca pembatas, alunan musik sengaja kami pasang guna menangkal gangguan itu,” ujar lelaki yang dibesarkan oleh keluarga penggila buku.
Setelah memanjakan pelanggan dengan menghadirkan ribuan buku berkelas dunia, Widi pun menservice para pelanggannya dengan menghadirkan masakan yang juga berkelas dunia. Bila Anda tidak percaya, cobalah pesan Chicken Parmigiana & Pasta Fettucine. Menu yang terdiri dari dada ayam dibungkus tepung dan keju mozzarella yang terkenal dengan rasanya soft dan mildnya itu diletakkan di atas pasta fettucina dan ditambah dengan garlic bread. Rasa harumnya ternyata sama nikmatnya dengan rasa pasta tersebut.
Bila Anda ingin hidangan yang cukup berat, nasi goreng teri pun bisa jadi menu andalan Anda. Jangan tertipu dengan tampilan nasi goreng yang begitu sederhana itu. Karena sekali Anda mencoba nasi goreng buatan Widi ini, Anda akan merasakan gurihnya teri yang bertebaran di sekumpulan nasi yang memiliki warna menggoda itu. “Nasi goreng teri ini adalah menu baru Buku Kafe,” jelas Widi.
Ya, Buku Kafe pada tiap tahunnya selalu mengeksplor menu hariannya itu. “Awalnya itu adalah masukan dari pelanggan kita yang meminta menu variasi, dan ternyata itu sangat usul yang bagus dan sangatmengasyikan,” papar pria yang juga mempunyai hobi memasak. “Dan kedepan kita mau memanjakan pelanggan kita dengan menu Dimsum,” bisik Widi menggoda.
ZOE, Surga Penggila Komik
Kafe buku yang memiliki warna dominant merah dan hitam ini memang unik. Saat memasuki pintu muka, Anda akan langsung disambut dengan hutan kecil buatan yang indah dan sejuk. Sehingga semilir angin pun tak segan-segan menyapa Anda dengan ramah ketika Anda bertandang kesana. Menurut Erman pemilik Zone Of Editainment, konsep bangunan semi terbuka ini memang sengaja diciptakan, mengingat di Jakarta memang tidak mempunyai taman bacaan. “Dan ternyata respon masyarakat bagus,” ujar lelaki yang pernah terjun ke dunia kontraktor.
Selain mengusung konsep taman baca, ada satu hal yang menjadi nilai jual kafe buku yang juga mempunyai cabang di kota peyem ini. Komik!. Yap, ZOE merupakan kafe buku yang hampir semua koleksi bukunya adalah komik. Baik komik yang populer pada tahun 1970-an, seperti serial Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes TH, karya-karya Yan Mintaraga, sampai komik-komik impor keluaran Marvel dan DC, seperti karya-karya Tony Wong, hingga komik manga (Jepang) yang mendominasi pasaran saat ini.
Itulah sebabnya nama awal ZOE adalah Komic Corner. “Tapi, setelah kami juga merambah ke koleksi buku sains dan ilmu dasar pengetahuan lainnya, kami mengganti nama menjadi ZOE, Zone of Edutainment,” terang Erman yang siang itu baru saja mendapat pesanan komik asterik ke kota Yogyakarta.
Menurut Public Relection ZOE, Utami Aditya, ada lebih dari sekitar 7000 komik yang dapat dikoleksi. “Untuk manga sendiri saja hampir 5000 buku. Sisanya novel, dan bacaan ilmu pengetahuan lainnya,” ujar wanita yang akrab dipanggil Tami. “Kalau dipersentasekan, 70-40 persenlah,” potong Tami.
Menariknya, tak hanya buku yang dilahap oleh ZOE, kafe buku yang siap membuka cabang di kota hujan ini ternyata juga mempunyai koleksi film. “Para penggemar movie juga kami manjakan disini. Dari film anime, korea sampai box office kami hadirkan juga,” ujar Tami. “Jadi para pengemar anime, tidak hanya bisa membaca komik, tapi juga bisa menonton kartunnya,” tambah Tami yang sejak bulan kemarin agak kewalahan dengan permintaan sewa DVD anime Naruto.
Koleksi film anime ZOE, memang sama banyaknya dengan koleksi buku komik. Sayangnya, disini ZOE tidak mempunyai ruangan khusus untuk menonton anime yang kita sewa. “Itu juga dikeluhkan oleh para pelanggan kita sih, mungkin ke depan kami bisa merealisasirkan,” jelas Tami.
Mengingat para pelanggannya yang bisa menghabiskan waktu seharian di tempatnya guna membaca, maka Erman pun membuka kafe guna memanjakan para pelanggannya. “Awalnya para pelanggan kami menanyakan apakah ada yang menjual snack atau mie goreng di dekat sini. Karena mereka merasakan lapar setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di sini,” kenang Erman.
Melihat lokasinya yang strategis, Erman pun tak main-main saat membuat menu kafe. “Karena pelanggan kami mayoritas adalah mahasiswa, maka kami menyajikan menu yang praktis, sehat, tapi juga pas dikantong,” ujar Erman. Dan salah satu menu andalan ZOE adalah Salmon Bennedict.
Tampilan ikan yang di import dari Norwegia ini memang menggemaskan. Lihat saja tampilan daging ikan yang direbus itu, benar-benar cantik karena beralas kentang yang dilebur oleh susu. Belum lagi langsung salmon itu langsung dilindas oleh telur ceplok. Uniknya disini, ikan salmon itu tidak dijamah oleh bumbu. Tapi dengan cocolan saos barbeque, rasa gurih langsung melumeri lidah Anda. Tak ayal, menu ini selalu sold out.
Ada lagi menu jagoan kafe ZOE. Sebuah iga sapi manis yang mempunyai nama, Zoe Red Hot Ribs. Daging yang dilahap dengan cocolan saos babeqeu ini sangat empuk. Sedikit manis karena sedikit dilumeri madu. Dan nilai plus tampilan menu ini adalah sate potongan paprika yang berwarna-warni. Dan sebatang roti panjang yang seakan siap menantang dunia.
Bila menyinggung dessert, Tami pun memperkenalkan Creeme Brulee. Tampilannya memang sederhana, tapi rasanya benar-benar tak bisa diungkapkan. Cream yang dimix oleh kuning telur dan gula itu manis menyatu dalam satu. Rasa manis disini pun tidak memiliki rasa legit yang terlalu. Mungkin karena proese masak Creeme Brulee ini dibakar dengan pas ya? Dan menyantap Creem Brulee sembari membaca manga, Ya pas juga lah!! (riska)
1 comment:
sampai detik ini, aku masih membatin akan semua ini...
akan maksud dari isi pesan ini..
(hehehhee, aku ga nyampe yah..)
Post a Comment