Monday, March 6, 2017

Jika Telinga Tak Cukup, Gunakan Hati!

"aku kesal karena ia tak jujur padaku! kenapa ia sampai berbohong! kenapa aku harus tau dari orang lain tentang penghianatannya!!", "aku lebih kesal lagi karena ia selalu saja mencampuri urusanku! selalu menelphone teman-temanku guna memastikan aku dimana dan dengan siapa! padahal baru semenit ia menelphoneku!!" "lihat saja, aku pasti ga akan ngasih dia kesempatan untuk mendengar alasannya. aku benar-benar marah!!," "biarin saja dia marah, nanti juga reda sendiri. bosan aku!!!" pernah mendapati sepasang kekasih yang memuntahkan kekesalannya padamu? kawanku pernah. dan ia kurang begitu senang akan itu. kalau aku, ya senang bukan main kala melihat ia harus ikut menggendong persoalan hati yang berkecamuk tersebut. karena berarti episode berfikir keras mengenai keegoisan pasangan, akan segera dimulai olehnya. "aku bingung, apakah nanti aku juga akan seperti salah satu dari mereka? saling melolohkan makian ketika memergoki kesalahan pasangannya? dan mengapa mereka lebih memerlukan bicara pada orang ketiga dibandingkan berbicara langsung dengan pasangannya? padahal aku yakin, pasangannya tersebut pasti akan jauh bisa memuaskannya dalam memberi jawaban," masih dalam keadaan duduk bersilanya, sambil menimang-nimang sebatang rokok kretek dengan jemarinnya, ia pun meneruskan pemikirannya. "padahal menurutku, kesalahan pasangan kita itu adalah asap dari api yang kita nyalakan. jadi seharusnya kita lihat dulu, mengapa ia bisa seperti itu? mungkin saja ada perlakuan atau kebiasaan kita yang membuatnya harus mengakumulasi rasa muak. ya kan?" tanyanya yakin. seakan ingin menyempurnakan cara berfikirnya, kawanku ini pun segera menyulut rokoknya. setelah mengepulkan asap putih sebanyak tiga kali dan menyibak asap tersebut, ia pun lagi-lagi hanyut dalam teori tentang rasio versus rasa versinya. "hmffh.. mengapa mereka bisa tidak mengenali dan mengakui alasan kesalahan pasangan mereka masing-masing ya? mengapa mereka tidak mau mengambil waktu sebentar untuk sekedar menarik nafas yang dalam dan sekedar bertanya, kontribusi apa yang telah aku berikan hingga pasanganku tega berbuat itu? ah, harusnya komunikasi mereka tetap terjaga! aku yakin, awal dari semua penghianatan atau ketidakpercayaan dalam hubungan adalah komunikasi!! dan ini pasti karena dalam hati mereka berkata, "ah biarlah, males aku akannya!!" aku yakin itu!!" lama terdiam, ia pun kembali larut dengan pemikirannya. bak orang mabuk, terus ia menggerakkan bibirnya sambil sesekali menaik turunkan kedua alisnya yang tertata rapih itu. panjang ia berbicara, sepanjang itu pula aku tertawa.. hahhahaha, jujur aku tertawa nyinyir melihat sikap dan mendengar pemikiran kawanku yang tak menyadari kalau rokoknya telah menjadi puntung tanpa perlu ia hisap. "Loh, kok kamu tertawa?" tanyanya kesal karena mendapati aku yang tak menyimaknya dengan baik. sebelum membuang puntung rokok yang hanya di hisapnya tiga kali itu, segera puntung itu pun diarahkan kepadaku sambil berteriak, "jangan bilang aku enggak tau kamu itu menertawakan apa! dalam hati kamu pasti bilang, "ah, ngomong aja. ntar juga kamu begitu!" ya kan? ngaku!!" hahahhaaha.. sumpah aku jadi teringat tentang peran telinga dan hati. mungkin kawanku lupa. kalau komunikasi itu tidak hanya didengar oleh telinga tapi juga oleh hati. "Loh, ya enggak juga! pokoknya mau itu pake telinga kek, hati kek, kalau komunikasi terjalin, pasti enggak ada misscomunication! semua hubungan pasti baik-baik saja," sanggah kawanku. "pokoknya komunikasi itu penting!!" sambungnya lagi sambil memicingkan matanya. "ketawa lagi, ku sundut kau!!" ancamnya sambil menarik kretek untuk kali kedua. hahahhaa Ya, aku mengamini pemikiran kawanku yang mendadak bawel ini. karena siapa yang bisa menampik komunikasi itu amat penting dalam suatu hubungan. baik itu jalinan kekasih, suami dan istri, orangtua pada anak, guru dan murid, komunikasi memang memegang peranan penting. "tapi kamu pun harus mengakui, ada satu ornamen lagi yang benar-benar tak kalah penting untuk menyempurnakan semua." "..apa?" "lebarkah hatimu, bukan telingamu!!! Karena sepadat apapun kuantitas komunikasi yang dilakukan, kalau mereka lebih melebarkan telinga mereka bukan hati mereka, maka emosipun yang akan jauh lebih giat bekerja dibandingkan logika. mau meminjam mulut siapapun untuk menjaga lingkaran komunikasi agar tidak terputus, kalau tetap yang mendengarkan hanya melebarkan telinga bukannya hati, berani taruhan rasa muak dan amarah pasti yang akan didapat." seakan tak mau mendapati aku yang memenangkan pembicaraan ini, kawanku pun segera menyulutkan rokok tersebut dan berkata, "ah, nanti juga kamu begitu!!" sambil membuang cepat asap putihnya kearahku. ffuhh!! uhuk.. uhuk.. "sial.. ya enggak lah... enggak salah maksudnya.. hahahhaa"

No comments:

Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!

Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...