Wednesday, September 13, 2017

Kenali Filosofi Sekolah

FILOSOFI PRASEKOLAH: Yang Mana Yang Terbaik Untuk Anakku? Filosofi sekolah? Apaan sih itu? Selama ini Anda mengenalnya sebagai “nama” sekolah, seperti Montessori, Waldorf, High/Scope dan Reggio Emilia. Ya, itu bukan sekadar nama, melainkan filosofi atau ancangan pendidikan yang menjadi pondasi dari kurikulum dan program yang diterapkan di kelas. Beberapa prasekolah lebih fokus pada permainan kreatif dan belajar individual, namun ada prasekolah yang lebih menekankan pada kerja berkelompok; ada yang mengutamakan bermain sebagai kegiatan belajar pokok sementara prasekolah yang lain menambahkan belajar akademis dengan cara tradisional. Anda semustinya memilih prasekolah yang memenuhi kebutuhan anak Anda dan kebutuhan Anda sendiri.
Montessori Filosofi sekolah Montessori berdasarkan karya Maria Montessori, seorang pendidik Italia, yang mendirikan gerakan ini pada 1907. Ide dasar Montessori: anak-anak adalah pembelajar individual dan guru bertindak sebagai pembimbing. Anak-anak melakukan berbagai aktivitas secara langsung. Bahan-bahan bermain yang dirancang untuk tujuan-tujuan khusus yang memandu anak waktu bermain anak. Montessori menekankan tanggung jawab pribadi dengan mendorong anak-anak untuk merawat milik dan kebutuhannya sendiri, seperti menyiapkan kudapannya dan membersihkan mainannya. Anak-anak bisa belajar bersama dalam satu kelas walau usia mereka berbeda-beda. Mereka didorong untuk saling membantu dalam belajar. Fokus pada belajar individual memungkinkan murid untuk belajar dengan kecepatannya sendiri. Montessori bisa menjadi lingkungan yang sehat bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Para instruktur Montessori lulus dari program pelatihan khusus. Sekolah-sekolah Montessori di Indonesia berafiliasi dengan Association Montessori Internationale (AMI). Namun ada juga sekolah yang memakai nama Montessori tapi tak berafiliasi dengan organisasi Montessori. Untuk itu, cermatlah dengan membaca misinya dan kurikulum sekolah Montessori yang akan diikuti anak Anda. Waldorf Sekolah Waldorf pertama berdiri pada 1919. Filosofinya berdasarkan ide-ide pendidik Austria, Rudolf Steiner. Prinsip dasar program Waldorf adalah rutinitas. Jadwal harian dan mingguan mengikuti irama yang konsisten. Gurunya pun seringkali tetap bersama dengan sekelompok murid yang sama, bahkan sampai delapan tahun. Ini memungkinkan mereka membentuk hubungan yang saling percaya. Suasananya seperti rumah, dengan perabotan dan alat-alat bermain alamiah. Kurikulumnya berorientasi pada kelompok. Waldorf menekankan belajar kreatif, seperti bermain peran, membaca cerita, bernyanyi, dan memasak. Tujuan sistem ini adalah mengembangkan emosi, fisik dan intelektual anak. Sekolah Waldorf cocok untuk murid yang irama hidupnya teratur. Sekolah harus berafiliasi dengan organisasi internasional untuk memakai nama Waldorf. Gurunya pun musti menerima latihan khusus dari organisasi Waldorf. Reggio Emilia Sekolah-sekolah Reggio Emilia berdasarkan prasekolah yang sangat sukses yang dikembangkan oleh penduduk kota Reggio Emilia, Italia, selama tahun 1940-an. Seperti di Montessori, murid yang memimpin proses belajar. Kurikulumnya terdiri atas proyek-proyek yang sesuai dengan minat muridnya. Guru mengamati spontanitas rasa ingin tahu murid, lalu membimbing mereka untuk menciptakan proyek yang mencerminkan usaha mereka. Anak-anak diharapkan belajar melalui kesalahan-kesalahannya daripada karena dikoreksi gurunya. Ini karena murid dianggap sebagai pembelajar yang sederajat. Permainan dan proyek-proyek mereka didokumentasikan dalam foto-foto dan rekaman dengan kata-kata mereka sendiri. Ini memungkinkan guru dan orangtua mengikuti kemajuan tiap anak dan sekaligus membuat anak-anak merasa kalau tindakannya sangat bermakna. Sekolah Reggio Emilia menekankan kreativitas dan penyajian artistik. Sekolah ini bisa menjadi pilihan bagus bagi murid yang tengah belajar bahasa. High/Scope High/Scope dimulai oleh Dr. David Weikart, seorang pendidik asal Michigan, pada 1970. Program ini kurang menekankan perkembangan sosial dan emosional dan lebih fokus pada perkembangan kecakapan akademis. Anak-anak dan orang dewasa belajar bersama-sama, dan murid didorong untuk mengambil keputusan-keputusan sendiri, baik soal bahan-bahan maupun aktivitasnya. High/Scope mengutamakan pengalaman belajar seperti mengatur barang-barang, menghitung dan menyebutkan waktu serta kegiatan linguistik dan kreatif seperti bernyanyi dan bercerita. Beberapa sekolah memasukkan komputer dalam proses belajar. High/Scope pada mulanya dikembangkan untuk anak-anak perkotaan yang berisiko. Sekolah ini cocok untuk anak-anak yang akan lebih berkembang jika mendapat perhatian perorangan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Bank Street Prasekolah Bank Street berdasarkan program pendidikan anak usia dini (PAUD) yang dijalankan oleh Bank Street College of Education di New York City, yang didirikan oleh Lucy Sprague Mitchell pada 1916. Anak-anak dianggap sebagai pembelajar aktif dan dunia di sekitar kita dianggap sebagai alat pengajaran terbaik. Pelajaran berfokus pada ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, geografi dan antropologi. Pelajaran seni dan ilmiah dimasukkan di dalam pelajaran budaya sehingga menghasilkan kurikulum yang terpadu. Mainan-mainan di kelas bersifat dasar, yang mendorong anak-anak melatih imajinasinya. Anak-anak bisa belajar sendirian maupun dalam kelompok, dengan bimbingan guru yang mendapat pelatihan khusus. Bank Street baik untuk anak-anak yang lebih suka berada dalam lingkungan yang kurang terstruktur. Berbasis Permainan/Sesuai dengan Tahap Perkembangan Prasekolah seperti ini sangat jamak. Prinsip pokoknya adalah mengutamakan partisipasi dalam kegiatan yang sesuai dengan umur anak, seperti bermain tak terstruktur, mendengarkan dongeng bersama seluruh kelas, dan kegiatan-kegiatan lain dengan tema tertentu. Anak-anak didorong belajar melalui bermain, walau beberapa sekolah menambahkan pelajaran akademis sesuai tuntutan jaman. Sekolah ini biasanya mencomot filosofi lain atau mencampurnya. Prasekolah Berbasis Proyek Sekolah-sekolah berbasis proyek menganggap anak-anak sebagai pembelajar individu dan guru adalah pembimbingnya. Murid-murid bekerja bersama-sama dan dengan gurunya belajar memilih, merencanakan dan menyelesaikan berbagai proyek. Pelajaran diperkuat dengan kunjungan lapangan, seperti pergi ke toko, pabrik, museum, kantor, dll. Ancangan ini mengutamakan penerapan kecakapan dan kebiasaan belajar positif dengan berusaha membuat proses belajar semenyenangkan mungkin. Ini program yang bagus bagi anak-anak yang lebih berhasil dalam lingkungan tak terstruktur. Religius Banyak gereja dan organisasi yang berasaskan agama kemudian mendirikan prasekolah. Mereka bisa saja mengikuti salah satu filosofi pendidikan seperti di atas, namun memasukkan unsur-unsur relijius tertentu. Kalau Anda tertarik dalam program berdasar reliji, pastikan untuk menanyakan kurikulum dan filosofinya juga. Komunitas Pusat-pusat komunitas dan tempat penitipan anak kadang-kadang juga membuat program prasekolah. Ada yang berdasarkan tempat kerja ibunya, organisasi istri pekerja perusahaan tertentu atau organisasi lokal lainnya. Seperti sekolah relijius, prasekolah ini bisa mengikuti salah satu atau kombinasi dari beberapa filosofi. Jadi, jangan lupa untuk menanyakan filosofi dan kurikulumnya. Language Immersion Di prasekolah immersion, semua atau kebanyakan pelajaran dilakukan dalam bahasa baru. Guru bisa menunjukkan artinya sambil ia bicara, tetapi jarang atau tak pernah menerjemahkannya. Metoda ini terbukti lebih cocok bagi anak-anak kecil daripada belajar terjemahan (metoda belajar yang lebih tepat bagi orang dewasa). Isi dari pelajaran bisa saja mengikuti filosofi pendidikan tertentu. Fokus pada bahasa baru ini bermaksud mengembangkan kemampuan penerimaan bahasa anak sambil sekaligus membuatnya lancar berbahasa baru. Sekolah seperti ini cocok bagi anak yang tengah mengembangkan kecakapan berbahasa pertamanya dalam tempo normal. Metoda ini untuk sementara akan memperlambat perkembangan bahasa pertama, sehingga tidak cocok bagi anak-anak yang perkembangan bahasanya tak terlalu bagus. International School Sekolah internasional biasanya didirikan oleh negara asing namun berkedudukan di Indonesia. Bahasa yang dipakai di semua kelas adalah bahasa asli mereka (kebanyakan bahasa Inggris). Awalnya sekolah ini didirikan untuk anak-anak dari keluarga ekspatriat, namun ada kalanya beberapa anak lokal yang ingin belajar bahasa asing juga ikut. Kadang-kadang sekolah internasional juga mengajarkan bahasa lain. Sekolah ini cocok bagi anak-anak yang sementara tinggal di negara lain atau untuk orangtua yang ingin anaknya belajar bahasa asing (ingat, menurut guru besar pendidikan bahasa, bahasa asing sebaiknya dipelajari tidak terlalu dini).
Prasekolah Kerjasama Orangtua Orangtua yang menginginkan peran besar dalam pendidikan anaknya bisa mempertimbangkan prasekolah kerjasama ini. Filosofi mereka bisa mengikuti salah satu atau gabungan dari filosofi pendidikan di atas. Ciri pembedanya adalah orangtua berperan besar di sekolah. Orangtua bergantian mengisi berbagai tugas, seperti membersihkan sekolah atau menyiapkan kudapan. Para orangtua ini menyewa guru profesional, tapi tetap dibantu oleh orangtua ketika mengajar di kelas. Ini bisa menjadi alternatif yang sangat murah karena keterlibatan orangtua akan mengurangi biaya. Kadang-kadang pemerintah memberikan subsidi atau sekolah ini mendapatkan donor dari lembaga lain. Kalau di sekitar rumah Anda tidak ada prasekolah semacam ini, mengapa tidak mengajak tetangga dan teman-teman Anda untuk membangunnya sendiri?

No comments:

Rizal Mantovani Sukses Kemas Perjalanan Spiritual Musisi Legenda dalam Film Biopik, Chrisye!

Dapat bermain dalam sebuah film biopik tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang aktor. Bagaimana tidak, memerankan sos...